Minggu, 06 Desember 2009

KELOMPOK 8

Fariz muharrom (080403010044)
Ahmad yani usman (080403010046)
I Putu Arya Sambara (080403010051)

PENERAPAN TEKNOLOGI KOMPUTER JARINGAN SECARA ONLINE DALAM SISTEM PENGELOLAAN DATABASE PAJAK HOTEL, RESTORAN DAN PARKIR
( Studi Kasus : Kota Pekanbaru )

YUHANDRI
Dosen Tetap Fakultas Ilmu Komputer
Universitas Putra Indonesia “YPTK”
2008

Abstrak
Penelitian ini dilakukan di Dinas Pendapatan Kota Pekanbaru, khususnya dalam sistem pengelolaan database pajak hotel, restoran dan parkir. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keuntungan dan kerugian dengan menggunakan sistem ini. Disamping itu, penelitian ini dilakukan karena sistem yang sedang berjalan tidak bisa memenuhi kebutuhan kondisi saat ini. Ini disebabkan oleh sistem yang sedang berjalan tidak dapat memberikan jumlah yang harus dibayar oleh wajib pajak. Tidak hanya itu, sehingga kemungkinan manipulasi data oleh wajib pajak sangat mungkin terjadi.
Dengan mengumpulkan data dan menganalisa data tersebut, maka dapat dihasilkan sebuah sistem baru berupa penerapan teknologi komputer jaringan secara online antara kantor DISPENDA dengan komputer di hotel, restoran dan parkir maka setiap transaksi yang terjadi di hotel, restoran dan parkir dapat tercatat secara langsung di kantor DISPENDA sehingga wajib pajak tidak bisa lagi memanipulasi data keuangannya.

Kata Kunci : - teknologi komputer secara online
Abstract
This research is conducted at Dinas Pendapatan Pekanbaru focussing an database management system of Hotel, Restaurant and Parking taxes. This research aims to discover benefits and loss of using the system. Furthermove, the research is conducted because the current system cannot fulfill the requirements. The current system cannot report the sum of taxes that must be paid. Therefore, the possibility of data manipulation by tax pay is high.
By collecting and analyzing data, a new system is built suppoted by computer network technology that connects DISPENDA to computer in hotel, restaurant and parking service. As a result, all transactionis such places can be monitored by DISPENDA and therefore, prevent data manipulation
Pendahuluan
Sebagaimana diketahui bahwa komputer sudah digunakan secara luas di berbagai bidang kegiatan. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat telah mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Kecepatan untuk memperoleh informasi merupakan salah satu faktor yang mendasari terjadinya kondisi tersebut. Modal yang mahal juga harus dikeluarkan untuk mendapatkan informasi.
Pembangunan ilmu pengetahuan dan tekonologi (iptek) sebagai bagian integral pembangunan nasional harus ditujukan untuk menjadi ketahanan ekonomi nasional dan harus ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Pembangunan iptek pun harus tetap tanggap dalam menghadapi perubahan global dan dalam menghadapi munculnya tatanan baru kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, kajian-kajian tentang iptek itu sendiri terus ditingkatkan sebagai tuntutan dari perubahan tersebut.
Saat ini di Indonesia terdapat beberapa kelemahan dalam pembangunan iptek yang termasuk didalamnya kegiatan pengembangan kajian-kajian tentang iptek, antara lain :
a. Kelemahan dari penghasil teknologi, seperti terbatasnya sumber daya iptek, dan belum berkembangnya budaya iptek
b. Kelemahan dari pengguna iptek, seperti rendahnya daya serap iptek pada sektor produksi dan lemahnya sumber daya iptek pada sektor industri
c. Kelemahan intermediasi, seperti belum tertatanya infrastruktur iptek dan belum efektifnya sistem komunikasi antara pihak lembaga litbang dan pihak industri atau penguna

Permasalahan Pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru
Masalah pokok yang mendasari kajian IT ini adalah era digital yang diikuti pesatnya perkembangan di bidang Information and Communication Technology (ICT) telah mempengaruhi hampir semua bidang dan telah banyaknya kehadiran hotel, restoran serta perparkiran.
Permasalahan tersebut dapat dinyatakan dalam pertanyaan berikut :
1. Apa jenis teknologi jaringan yang akan diterapkan ?
2. Apa spesifikasi Hardware dan Software yang akan digunakan ?
3. Berapa Anggaran Biaya untuk penerapan teknologi tersebut ?


Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian ini adalah :
1. Memberikan gambaran tentang perkembangan IPTEK dan kebijakan serta strategi nasional yang disusun oleh institusi pemerintah di bidang TIK (RPJM, Jakstranas, Buku Putih Iptek, ARN, Dewan TIK Nasional).
2. Memberikan gambaran tentang perkembangan teknologi Jaringan Komputer
3. Memberikan gambaran tentang Hardware dan Software yang digunakan dalam penerapan IT untuk Sistem Database Pajak Hotel, Restoran dan Parkir

Teori Tentang Jaringan Komputer
Jaringan komputer adalah perpindahan data (Komunikasi Data) dari suatu komputer sumber (transmiter) ke komputer tujuan (receiver) yang melewati suatu media penghantar dalam bentuk bit-bit. Salah satu contoh dari jaringan komputer adalah video conference pada komputer, dimana suara dan video yang dihantar harus terlebih dahulu dirobah dalam bentuk kumpulan bit-bit sebelum memasuki media penghantaran untuk di komunikasikan.





Gambar 1. Jaringan Komputer

Defenisi LAN

LAN adalah suatu jaringan komputer dalam jarak yang dekat, seperti yang dimiliki oleh organisasi dan mempunyai kecepatan komunikasi data yang tinggi.
Karekteristik LAN :
1. Milik satu lembaga, yaitu komponen-komponen dalam LAN dimiliki oleh satu organisasi.
2. Kadar kecepatan komunikasi data yang sangat tinggi, antara 10 sampai 100 Mbps ke atas.
3. Kadar kesalahan data selama komunikasi yang sangat rendah.
4. Penghantaran data dilakukan secara ‘Broadcast’
Komponen-komponen LAN
Komponen dari suatu LAN terdiri atas :
1. Peralatan pengkomputeran (komputer, modem, printer, storage dll).
2. Card Rangkaian (Network Interface Card)
3. Sistem perkabelan (kabel, connector, terminator)
4. Hubs atau concentrators
5. Software LAN (Sistem Operasi, seperti NOS, Windows, Windows NT, Unix, Novell dan software aplikasi)
Topologi LAN
Topologi merupakan tata bentuk susunan komputer terhadap pemasangan kabel dan pergerakan perputaran data dalam suatu jaringan. Topologi terdiri atas 3 bentuk utama yaitu :
1. Bus
2. Cincin (Ring)
3. Bintang (Star)

Wireless / Nirkabel
Jaringan Komputer Nirkabel (WLAN)
1. Wireless LAN (WLAN) merupakan teknologi komunikasi data dan suara tanpa kabel yang dapat digunakan sebagai media komunikasi antar gedung
2. Wireless LAN (WLAN) adalah sebuah sistem komunikasi yang di implementasikan sebagai pengembangan, atau alternatif untuk Wired Local Area Network
3. Menggunakan teknologi frekwensi radio (RF) dan bisa juga sinar Infrared
4. Jaringan komputer nirkabel mengirim dan menerima data melalui udara dan mengurangi/ meniadakan kebutuhan penggunaan koneksi melalui kabel

Metodologi Penelitian

Penelitian didefinisikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk mengetahui sesuatu hal, untuk mencari tahu jawaban atas sesuatu atau beberapa permasalahan. Dalam kenyataannya kegiatan penelitian dapat dikategorikan mempunyai arti secara rasional dan empiris yaitu :
Arti Rasional : merupakan suatu cara untuk mencari tahu sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia (internal wisdom).
Menurut pendekatan rasional pengetahuan dimulai dari suatu gagasan/pikiran yang didasarkan atas pemikiran yang dimiliki seseorang, misalkan untuk mencari tahu jumlah gigi kida, harus dibuka mulutnya, dihitung dan bukan dengan berfikir
Arti Empiris : merupakan pengetahuan yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi (external process). Salah satu bagian dari pendekatan empiris adalah metode ilmiah.
Gambar 3.1 dibawah ini menunjukkan suatu defenisi dari langkah-langkah dari suatu metode ilmiah (siencetific methods) yang meliputi identikasi masalah sampai pembuatan kesimpulan yang urutannya sebagai berikut :







Karakteristik Penelitian
Karakteristik dalam suatu kegiatan penelitian akan berkaitan dengan (i) tujuan penelitian (ii) metode penelitian (iii) penelitian dan ilmu yang digambarkan sebagai berikut :






Gambar 2. Karakteristik Penelitian
Tujuan penelitian dapat dilihat dalam 2 sisi yaitu :
• Untuk pengembangan ilmu pengetahuan, dan biasanya bersifat jangka panjang karena pada umumnya tidak terkait dengan suatu pemecahan permasalahan yang secara praktis (terapan).
• Untuk pemecahan masalah atau menjawab pertanyaan penelitian yang bersifat jangka pendek, karena hasil penelitian tersebut lebih menekankan ada upaya pemecahan suatu permasalahan secara praktis (practical aproach).
Sedangkan metode penelitian merupakan usaha penyelidikan yang sistematis dan terorganisasi. Arti sistematis dan terorganisasi menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuan, maka penelitian dilakukan dengan menggunakan cara-cara (prosedur) tertentu yang telah diatur dalam suatu metode yang baku. Metode penelitian berisikan pengetahuan yang mengkaji ketentuan metode-metode dipergunakan dalam langkah-langkah suatu proses penelitian.

Jadi penelitian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, sedangkan ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang memiliki kriteria tertentu, maka dengan demikian penelitian mempunyai hubungan erat dengan ilmu. Sebagaimana dikatakan oleh Claire Selltiz (1977), bahwa tujuan penelitian adalah : ” To discove answer to questions trough the application of scientific procedures. These procedures have develoved in order to increase the likehood the information gathered veil! Be relevant to the question asked and will reliable and unbiased.”
Secara garis besarnya, bahwa tujuan dari penelitian itu untuk menemukan jawaban dari pertanyaan melalui aplikasi dan prosedur ilmiah. Prosedur tersebut telah dikembangkan sesuai dengan kemungkinan dari peningkatan informasi yang telah dihimpun berkaitan erat dengan suatu pertanyaan yang diajukan, dan dapat dipercaya serta tidak menimbulkan bias.
Untuk mencapai sasaran yang lebih baik dalam penelitian ini maka dalam mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan permasalahan dengan metode sebagai berikut :
a. Penelitian Lapangan (field research)
Dalam hal ini melakukan penelitian ke lapangan dan mengadakan wawancara dengan para staf Hotel, Restoran dan Parkir serta juga melakukan survei ke Dispenda Kota Yogyakarta yang mana Dispenda Kota Yogyakarta sudah menerapkan Sistem Database Online dalam pengelolaan Pajak Hotel dan Restoran
b. Penelitian Perpustakaan (library research)
Melakukan pengumpulan data dengan menggunakan buku dan literatur yang dapat digunakan sebagai dasar dalam kajian IT ini
c. Penelitian Laboratorium (laboratory research)
Untuk mencapai tujuan yang diharapkan maka dalam kajian IT ini melakukan penelitian Laboratorium, adapun konfigurasi komputer yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Hardware
• Laptop PT. IV Merk Toshiba
• Hardisk 80 Gb
• RAM 512 Mb
• Printer HP Officejet All-in-One

2. Software
• Sistem Opearasi Windows XP
• Microsoft Office


Analisa dan Konfigurasi Sistem
Analisa Sistem
Sesuai dengan pemasalahan yang dibahas diatas bahwa era digital yang diikuti pesatnya perkembangan di bidang Information and Communication Technology (ICT) telah mempengaruhi hampir semua bidang maka sudah seharusnya Dinas Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru menerapkan sistem Teknologi Komputer Jaringan Secara Online Dalam Sistem Pengelolaan Database Pajak Hotel dan Restoran Kota Pekanbaru. Untuk lebih spesifik dari sistem kerjanya dapat dilihat dari Aliran Sistem Informasi yang terdapat pada Gambar 4.1 di bawah ini :
Tabel 1. Aliran Sistem Informasi Sistem Pajak Online

Hotel/Restoran (WP)

Pimpinan
Server Database
Administrator



Pada Tabel 1 di atas terdapat 4 komponen utama dalam pelaksanaan Sistem Pajak Online yaitu : Administrator, Server Database, Pimpinan, Hotel dan Restoran. Administrator mengelola sistem, selanjutnya Hotel dan Restoran (WP) sudah melakukan transaksi dan transfer data ke Server database, sementara pimpinan juga bisa melihat langsung dari komputernya.

Konfigurasi Sistem Pajak Online
Terdapat 3 (tiga) model konfigurasi Sistem Pajak Online yang diusulkan dalam Kajian IT ini berdasarkan teknologi koneksi jaringan yang digunakan, sebagai berikut :
A. Koneksi dengan Wirelles
B. Koneksi dengan ASDL
C. Koneksi dengan Sistem Dial Up
Arsitektur Sistem secara Umum
Desain Arsitektur merepresentasikan struktur data dan komponen-komponen program yang diperlukan untuk membangun sebuah sistem berbasis komputer. Hal ini mempertimbangkan bentuk arsitektural yang dipakai oleh sistem, struktur dan sifat-sifat komponen yang mendukung sistem, dan inter-relationship yang terjadi antara komponen-komponen arsitektural dari sebuah sistem.

Arsitektur adalah seuatu representasi yang memungkinkan software engineer : menganalisis keefektifan desain sehubungan dengan syarat-syarat yang sudah ditetapkan, mempertimbangkan alternatif arsitektural pada suatu tingkatan ketika untuk membuat suatu perubahan-perubahan desain masih relatif mudah, mengurangi resiko-resiko yang berhubungan dengan konstruksi software (Pressman, 2001) Rancangan Arsitektur Sistem Pajak Online secara umum dapat dilihat pada Gambar 4.6



Gambar 3 Rancangan Arsitektur Pajak Online Secara Umum
Penjelasan gambar 3 sebagai berikut :


1. System : Sistem yang ada pada wajib pajak jika wajib pajak sudah mempunyai sistem sendiri

2 Dispenda : Komputer milik Dispenda yang ditempatkan di Wajib Pajak

3 Server : Server Dispenda untuk menampung database Wajib Pajak Online

Hasil
Arsitektur dengan Wirelles



Gambar 4. Rancangan Arsitektur Pajak Online dengan Wirelles




A. Spesifikasi Perangkat Lunak (Software) yang digunakan :

Server :
• Operating System Windows 2003 server / Linux
• Software Database MySQL Ver. 5.0
• Aplikasi Sistem Pajak Online
• Driver Wirelles untuk koneksi

Terminal Dispenda :
• Operating System Windows XP
• Aplikasi Sistem Pajak Online
• Microsoft Office

Terminal Hotel dan Restoran :
• Operating System Windows XP
• Software Database MySQL Ver. 5.0
• Aplikasi Sistem Pajak Online
• Driver Wirelles untuk koneksi

B. Spesifikasi Perangkat Keras (Hardware) yang digunakan :

Server :
Perangkat Komputer (detail pada lampiran A)
• Server Merk Dell PowerEdge 2900 Xeon 5110, 2GB FDDR2-533 ECC, 4x 73GB HDD 10K SAS HotSwap, 48x CD, VGA ATI 16MB, 2x GbE NIC, Tower Case with Redundant PSU
• Monitor LCD Merk Dell E177FP,17", 1280 x 1024, 0.264 mm, 8ms, 450:1, 300 cd/m², Black
• PC Accer Aspire M3600, Pentium Dual Core E2140, 512MB DDR2, 80GB HDD SATA, DVD/CDRW Combo, VGA Integrated 128MB (shared), Audio, 56K Modem, GbE NIC, Win Vista SE - BUNDLE 15" LCD Monitor
• Printer Epson LQ-2180, 136 columns, 24 pin impact dot matrix, 480 cps
• Printer Epson LX-300++, 80 columns, 9 pin impact dot matrix, 337 cps, USB / Parallel
• Switch 3COM 3 CR17561-91, Switch 4500 24-Port 10/100 + 2-Port Gigabit 10/100/1000, Autosensing
• UPSAPC SC10001

Perangkat wirelles
• Perangkat Accesspoint Merk Proxim Avaya
• Lightning Protector
• Cable LMR
• Antena Omni 369 Degree Merk Hiperlink
• Tower

Terminal Dispenda :
Perangkat Komputer
• PC Accer Aspire M3600, Pentium Dual Core E2140, 512MB DDR2, 80GB HDD SATA, DVD/CDRW Combo, VGA Integrated 128MB (shared), Audio, 56K Modem, GbE NIC, Win Vista SE - BUNDLE 15" LCD Monitor
• Printer Epson LQ-2180, 136 columns, 24 pin impact dot matrix, 480 cps
• Printer Epson LX-300++, 80 columns, 9 pin impact dot matrix, 337 cps, USB / Parallel
• Printer HP LaserJet 1020

Perangkat Jaringan Lokal Dispenda
• UTP Cable
• Jack Rj-45
• Switch 3COM 3C16472, Baseline Switch 2126-G (24 port 10/100 + 2 giga utp)

Terminal Hotel dan Restoran :
Perangkat Komputer
• PC Accer Aspire M3600, Pentium Dual Core E2140, 512MB DDR2, 80GB HDD SATA, DVD/CDRW Combo, VGA Integrated 128MB (shared), Audio, 56K Modem, GbE NIC, Win Vista SE – BUNDLE 15” LCD Monitor
• Printer Epson LX-300++, 80 columns, 9 pin impact dot matrix, 337 cps, USB / Parallel

Perangkat Wirelles Wajib Pajak
• Antena Grid 24 dBi
• Radio Client Senao
• Lightning Protektor
• Cabel STP
• Tower

C. Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Wirelles
Keuntungan :
• Hanya satu kali mengeluarkan biaya untuk pembelian peralatan
• Bisa menerapkan sistem Real Time Online
Kerugian :
• Sangat rentan dengan cuaca yang kurang bagus terutama petir sehingga Dispenda bisa mengeluarkan biaya ekstra yang besar untuk pembelian perangkat baru, juga belum lagi akibat yang ditimbulkan jika tower ada yang jatuh/patah.
• Harus memasang tower disetiap WP (ilustrasi : jika ada 50 WP maka ke 50nya harus memasang Tower di Hotel atau Restorannya, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana bagi Hotel dan Restoran yang tidak memiliki gedung bertingkat atau tidak memiliki lokasi pemasangan maka ini akan menjadi problem baru belum lagi izin frekwensi dan pemasangan tower serta pajaknya)


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir (2000), “Konsep & Tuntunan Praktis basis Data”, Yogyakarta, Andi Offset,

Jeffrey I Whitten, Prof, Jonnie d Bentley, Prof, “System Analysis And Disain Methods”New Delhi New York 2003

Jogiyanto H.M (1995) , “Pengenalan Komputer”, Yogyakarta, Andi Offset,

Jufriadif Na’am dan Yuhandri (2001) , “Jaringan Komputer”, Padang, UPI Press,

Roger S. Pressman, “Software Engineering A Proctioner’s Approach”, The McGwow-Hill Companies, Inc, 1997

http://www.bhineka.com

http://www.ilmukomputer.com

http://www.dell.com

KELOMPOK: V

NAMA : ROFIQ HIDAYAT (080403010029)
REKSO WIDODO (080403010027)
LUKMAN HAKIM (080403010026)
FAK/JUR : FTI/TI
KEL : 5

PEMBUATAN APLIKASI BERGERAK TEMU ULANG FILE ELEKTRONIK
BERBAHASA INDONESIA DENGAN MEMANFAATKAN JAVA CLDC
Andre Kurniawan1, Hapnes Toba2
Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Kristen Maranatha
Jl. Suria Sumantri 65 Bandung 40164; Telp. (022)2012186 ext. 296
E-mail: hackersmooth88@gmail.com ; hapnestoba@yahoo.com

ABSTRACT
Smart Download is a mobile application that dedicated to search electronic documents in Indonesian (Bahasa Indonesia) throguh the Web. This application use the Advanced URL Google (spyder) to retrieve the documents from the Internet, that further will be enchanced with Porter Stemmer and the combination of TF/IDF and vector space algorithm. The documents that need to be downloaded can be breakdown in partial parts. The implementation of the application used J2ME CLDC. The application is evaluated in a classroom
situation, the result shows that search is improved after the enhancement process.
Keywords: Smart Download, Spyder Google, Porter Stemmer, Vector Space Algorithm.

1. LATAR BELAKANG DAN RUMUSAN MASALAH
Masalah yang sering muncul dalam dunia Internet adalah bagaimana melakukan pencarian informasi yang tepat dan bagaimana strategi bdownload terhadap file yang diinginkan secara efektif. Mesin pencarian seperti Yahoo dan Google
memang dapat memberikan kandidat himpunan dokumen, lihat Lewis (2008), namun jika pencari informasi memerlukan konteks atau definisi yang terkait dengan bahasa tertentu, maka pencari informasi harus membuka dokumen yang ditawarkan satu per satu. Tentu akan sangat memerlukan waktu yang lama jika seandainya dokumen yang diinginkan ternyata ada pada urutan rendah. Masalah lain muncul jika pencari informasi ingin melakukan download dari perangkat handphone. Sampai saat ini penggunaan terhadap perangkat lunak untuk melakukan download khusus seperti flashget masih jarang terutama di handphone. Biasanya pengguna handphone akan menggunakan browser Opera Mini. Browser Opera Mini hanya melakukan download secara sequentional dan tidak dapat melakukan resume dan download part.
Di dalam makalah ini akan diuraikan sebuah solusi untuk melakukan proses pencarian dokumen khususnya dalam konteks Bahasa Indonesia, dan
bagaimana melakukan untuk melakukan download file tersebut secara efektif melalui perangkat handphone. Konsep yang akan digunakan adalah
kombinasi antara advanced search Google (Spyder Google), penerapanan text mining untuk membantu pemilihan dokumen yang sesuai dengan bahasa
Indonesia, dan download manager dengan menggunakan teknik download parsial. Aplikasi yang akan dibuat dengan menggunakan J2ME CLDC sehingga dapat dioperasikan dalam perangkat handphone.
2. LANDASAN TEORI

2.1 Teknologi J2ME
Teknologi Java yang pada awalnya dikenal untuk aplikasi pada desktop (J2SE) ataupun pada application server (J2EE), kini hadir dengan
teknologi terbarunya, J2ME™ Platform, untuk pembangunan aplikasi pada mobile device seperti mobile phone dan PDA. Teknologi dalam J2ME
dibedakan berdasarkan configuration dan profile. Configuration mendefinisikan minimum Java Libraries dan kapabilitas yang dimiliki oleh para
developer J2ME. Artinya antara mobile device yang Java enabled maka akan ditemukan configuration yang sama. Bila dianalogikan dengan sekelompok
mobil maka sebuah mobil dengan mobil lainnya memiliki kesamaan, misalnya mempunyai roda, kaca spion, spedo meter, dll. Jadi configuration hanyalah
mengatur hal-hal yang berkaitan dengan “kesamaan” bukan mengatur hal-hal yang “membedakan”, sehingga configuration memastikan portabilitas
antar devices. Aplikasi Smart Download yang dikembangkan menggunakan configuration CDLC, yang dapat Digunakan pada perangkat handheld
(handphone, PDA, two way pager) dengan memori terbatas (160-512 kB), dan prosesor 16 atau 32 bit, lihat Wirya Santika (2009).

2.2 Advanced URL Google
Advanced URL Google dibuat untuk memaksimal pencarian terhadap data yang akan ditemukan oleh pengguna. Dengan memiliki pemahaman yang baik terhadap Advanced URL ini diharapkan pencarian yang akan dilakukan oleh
Google dapat lebih spesifik, lihat Calishain (2003). Berikut ini adalah macam-macam operator yang dapat dikombinasikan, dan digunakan dalam
aplikasi Smart Download, lihat Google (2009):
• intitle: Untuk mencari kata-kata dari judul suatu halaman web, misalnya Keyword: intitle:“java”
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009) ISSN:1907-5022
Yogyakarta, 20 Juni 2009
F-6
• inurl: Digunakan untuk mencari semua URL yang berisi kata-kata tertentu, misalnya Keyword:
inurl:”java”

• filetype: Jika kita mencari jenis file tertentu yang berisi informasi yang anda inginkan kita bias menggunakan operator ini, misalnya Keyword:"hacker" filetype:pdf.Dengan menggunakan kombinasi operator yang tepat maka pengguna akan mendapatkan informasi yang lebih relevan sesuai kata kunci yang
diinginkan.

2.3 Text Mining
Salah satu bagian dari Data Mining yang cukup menarik adalah Text Mining. Metode ini digunakan untuk menggali informasi dari data - data dalam
bentuk teks seperti buku, makalah, paper, dan lain sebagainya. Yang membedakan data mining dengan text mining adalah proses analisis terhadap suatu
data. Data Mining atau KDD (Knowledge Discovery in Databases) adalah proses untuk menemukan pengetahuan dari sejumlah besar data yang disimpan
baik di dalam databases, data warehouses atau tempat penyimpanan informasi lainnya. Sedangkan untuk text mining sering disebut dengan Keyword-
Based Association Analysis. Keyword-Based\ Association Analysis merupakan sebuah analisa yang mengumpulkan keywords atau terms (istilah)
yang sering muncul secara bersamaan dan kemudian menemukan hubungan asosiasi dan korelasi di antara keywords atau terms itu, lihat Tan (1999).
Secara garis besar dalam melakukan implementasi text mining terdiri dari 2 tahap besar yaitu pre-processing dan processing. Tahap preprocessing adalah tahap di mana aplikasi melakukan seleksi data yang akan diproses pada setiap dokumen. Setiap kata akan dipecah-pecah menjadi struktur bagian kecil yang nantinya akan
mempunyai makna sempit. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan pada tahap pre-processing ini, yaitu: Tokenizing, Filtering, dan Stemming. Tujuan
dilakukan pre-processing adalah memilih setiap kata dari dokumen dan merubahnya menjadi kata dasar yang memiliki arti sempit. Kemudian tahap yang
kedua adalah melakukan processing. Tahap ini merupakan tahap inti di mana setiap kata akan diolah dengan algoritma tertentu sehingga mempunyai bobot terhadap setiap dokumen yang akan diseleksi. Tahap ini sering disebut juga dengan
Analizing. Dokumen dalam bahasa Indonesia mempunyai keunikan tersendiri, karena kata - kata dalam bahasa Indonesia dapat berubah bentuk saat mendapatkan
imbuhan. Untuk itu diperlukan proses stemming, yaitu proses mengembalikan kata ke bentuk dasar. Pada penelitian ini diterapkan algoritma Porter
Stemmer for Bahasa Indonesia, yang dikembangkan oleh Tala (2003).
Dalam tahap processing, dokumen akan dianalisa oleh aplikasi. Secara umum terdapat dua jenis metode yaitu metode yang tidak melakukan
perhitungan bobot kalimat dan yang melakukan perhitungan bobot kalimat. Metode yang tidak menghitung bobot kalimat hanya mengambil
beberapa kalimat awal dan akhir. Metode-metode yang menghitung bobot kalimat menggunakan bobot term (kata maupun pasangan kata) dari setiap term
yang terdapat dalam kalimat tersebut. Bobot term diperoleh dengan melakukan
perhitungan sederhana terhadap Term Frequency dan Inverse Document Frequency dari term tersebut yaitu TF/IDF. Dengan menggunakan title factor,
bobot dari sebuah term dapat ditingkatkan jika term tersebut terdapat dalam judul. Penerapan terhadap dokumen akan dilakukan dengan menggunakan
kombinasi dari Algoritma TF/IDF dan Vector Space.

2.4 Algoritma TF/IDF
Formula yang digunakan adalah menghitung bobot (W) masing-masing dokumen terhadap kata kunci, lihat Mooney (2006):
Wd,t = tfd,t * IDFt (1)
dimana:
d = dokumen ke –d
t = kata ke – t dari kata kunci
IDF = hasil inversi dari frekuensi kata dalam\dokumen, dihitung dengan mengambil nilai logaritma dari perbandingan antara jumlah dokumen yang dihasilkan dengan jumlah total frekuensi kata ke – t dari kata kunci dalam dokumen
W = bobot dokumen ke – d terhadap kata ke – t
Setelah bobot (W) masing-masing dokumen diketahui, maka dilakukan proses sorting dimana semakin besar nilai W maka semakin besar tingkat similaritas dokumen terhadap kata yang dicari.

2.5 Algoritma Vector Space
Algoritma ini merupakan algoritma kombinasi yang dilakukan setelah dokumen dihitung bobotnya dengan menggunakan algoritma TF/IDF. Algoritma
ini diterapkan ketika bobot dari perhitungan TF/IDF memiliki derajat bobot yang sama antar dokumen. Algoritma ini akan mengatasi bobot yang sama
untuk setiap dokumen yang akan dibandingkan. Ide dari metode ini adalah dengan menghitung nilai cosinus sudut dari dua vector yaitu W dari tiap dokumen dan W dari kata kunci, lihat Mooney,(2006).

2.6 Download Parsial
Download Parsial adalah teknik download dengan mengirimkan request sebagian file dari server. Setiap server memiliki protokol yang mengatur atau mengijinkan terjadinya hubungan, komunikasi, dan perpindahan data antara dua atau lebih titik komputer. Ketika ingin meminta informasi dari protokol maka aplikasi harus mengirimkan request di mana ketika server melakukan respons maka server akan mengirimkan informasi berupa respons code dan juga stream bytes, lihat Shackelford (2006).

3. PERANCANGAN APLIKASI
Dalam bagian ini disampaikan perancangan
mekanisme pencarian dokumen, text-mining sampai
dengan proses download-nya.

3.1 Mekanisme Pencarian Dokumen
Gambar 1 memperlihatkan mekanisme pencarian
dokumen.



1. Aplikasi akan mengirimkan Header HTML URL di mana aplikasi melakukan ini dengan membuka port 80. Dalam hal ini aplikasi harus terhubung dengan Internet.
2. Kata kunci akan dikirimkan ke Google dengan melakukan kombinasi.
3 . Google akan meresponse HTML REQUEST ini dan mengecek ke dalam database-nya
4. Halaman yang diminta berhasil didapatkan dan Google akan mengirimkan hasilnya.
5. Aplikasi akan menangkap Tag HTML. Aplikasi akan menggunakan menyimpan informasi ini ke dalam format XML. Kemudian data
akan diolah sesuai dengan kategori. Pada tahap ini aplikasi belum melakukan mining hanya melakukan perbandingan hit point.

3.2 Mekanisme Text-Mining
Gambar 2 memperlihatkan mekanisme textmining.
1. Data yang sudah ditampilkan ketika dilakukan pencarian file pada fitur sebelumnya. Data akan dikelola dalam bentuk XML dan siap untuk dipilih di
dalam menu search.
2. Data yang sudah dipilih dari Choice Group yang ada pada menu search ini akan di-download dalam bentuk HTML. Hal ini dilakukan agar data dapat di-parsing dengan baik oleh aplikasi dan tidak membuang bandwith karena berukuran kecil, dalam bentuk XML.
3. Data yang telah diambil akan diubah kembali menjadi HTML dan siap untuk diolah oleh aplikasi.
4. Data yang sudah disimpan ke dalam aplikasi maka akan segera diolah di
dalam modul mining. Data tersebut akan melewati 4 proses text mining
antara lain, yaitu:
• Tokenizing
• Filtering
• Stemming
• Analizing yang menerapkan algoritma TF/IDF dan Vector Space
5. Aplikasi akan melakukan link associate di mana akan menjadi setiap log yang sudah dilakukan oleh pengguna. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan pencarian yang mendekati keinginan user.















3.3 Mekanisme Download Parsial
Gambar 3 memperlihatkan rancangan mekanisme untuk download file:
1. Aplikasi akan melakukan load terlebih dahulu. Data setiap informasi mengenai file akan disimpan di dalam Record Store
2. Setelah data berhasil di-load maka aplikasi akan melakukan thread sesuai dengan pembagian job yang sudah diatur dengan melakukan download
berdasarkan ukuran byte. Kemudian setiap thread akan melakukan koneksi terhadap server tujuan
3. Setiap job akan mengirimkan head yang berbeda-beda. Dan pada tahap ini aplikasi dapat meminta server melakukan request file secara
parsial. Tahap ini juga menentukan download manager untuk melakukan download file secara parsial.















4. Apabila protokol server mendukung metode partial, maka server akan mengirimkan file sesuai dengan byte yang diminta oleh user.
5. Setiap byte yang akan diterima akan disimpan terlebih dahulu dalam bentuk stream. Kemudian aplikasi akan melakukan pengecekan terhadap modul download.
6. Setiap kali melakukan download maka aplikasi akan mengecek status job apakah mati atau tidak. Hal ini untuk mengantisipasi apabila terjadi pause job.
7. Aplikasi akan memindahkan byte yang sudah disimpan ke dalam file handphone. Kemudian akan melakukan update terhadap data file.

3.4 Diagram Kelas
Jumlah keseluruhan kelas yang membentuk aplikasi Smart Download ini adalah 31, dapat dilihat pada Lampiran 1. Dalam gambar diagram kelas
terdapat dua package yang dilingkari besar. Hal ini untuk menunjukkan bahwa kelas tersebut mengambil beberapa library tambahan yang diambil dari sourgeforge.net, yaitu:
1. FTP
MEFTPClient, MEFTPClientController, dan MEFTPClientDataConnection.
2. XML
XML, ParseEvent, XMLParser, dan AbstractXMLParser
Setiap pencatatan konfigurasi dan informasi mengenai file akan dicatat ke dalam internal memori menggunakan Kelas RecordData. Kelas
GoDownload adalah kelas yang membuat objek untuk menjalankan download manager. Dari kelas inilah implementasi multithreading akan dilakukan
pada saat pemecahan file. Kelas Abstract Search akan menangani koneksi
ke dalam Google dan melakukan download terhadap file yang akan diproses. Proses mining akan dilakukan oleh kelas GoMining. Kelas ini juga akan
melakukan implementasi dan sinkronisasi antar kelas ParseXML dan package mining. Untuk kelas seperti HTTP, FTP, MemoriMonitor, dan lain lain
akan mendukung proses pada masing–masing modul secara fungsionalitas yang spesifik tugas tertentu.

4. HASIL IMPLEMENTASI

4.1 Pencarian Dokumen
Pada modul ini dilakukan dua macam pengolahan data dalam melakukan pencarian file yaitu:

o File Html/Page Pada tahap ini file html yang didapatkan dari Google akan disimpan ke dalam XML. Data yang akan dikirimkan ke dalam URL
Google akan dikombinasikan dengan kata kunci khusus Google. Banyaknya informasi page yang akan di-download tergantung dari pengguna yang akan melakukan set pada menu setting.
o Hit point Tahap ini merupakan tahap lanjutan dari tahap pengambilan informasi dari Google. Tahap ini belum melakukan implementasi
mining tetapi melakukan filtering data dengan melakukan perbandingan terhadap 3 himpunan hasil pencarian dari Google dengan operator:
filetype:doc,inurl:,intitle:.
Tiga hasil ini akan digunakan untuk melakukan perbandingan. Tahap ini akan melakukan seleksi terhadap halaman Google yang telah dikelola di
dalam XML. Kemudian akan membandingkan setiap link yang muncul apakah ada ketika melakukan kombinasi. Setiap URL yang ada di halaman Google akan diberikan nilai hit sesuai dengan urutannya.
Contoh: untuk sebuah dokumen D1, diperoleh hasil untuk setiap operator di atas menghasilkan:
MAXPAGE (jumlah halaman pencarian maksimum) = 20
filetype: Posisi 8, nilai: [MAXPAGE] –8
inurl: Posisi 3, nilai: [MAXPAGE] – 3
intype: Posisi 5, nilai: [MAXPAGE] – 5
Total Hitpoint D1: [(20-8) + (20-3) + (20-5)] /
[MAXPAGE*3] 73.3%
Hit point dari setiap dokumen yang akan ditampilkan tergantung dari presentase minimal yang diinginkan oleh pengguna. Apabila pengguna mengisi presentase 70% maka contoh D1 di atas akan keluar pada halaman hasil. Setelah data sudah
didapatkan maka aplikasi baru dapat melakukan mining terhadap data yang akan diseleksi. Pengguna tinggal memilih dengan melakukan check pada form.
Gambar 4, memberikan hasil implementasi untuk pencarian file sebelum dilakukan text-mining.

4.2 Text-Mining
Di bawah diberikan contoh dokumen yang akan diseleksi dan perhitungan dalam matriks pengolahan:
Kata Kunci(kk) = pengetahuan logistik
Hasil:
Dokumen 1 (D1) = Manajemen transaksi logistik
Dokumen 2 (D2) = Pengetahuan antar individu
Dokumen 3 (D3) = Dalam manajemen pengetahuanterdapat transfer pengetahuan logistik.
Jumlah dokumen ditemukan (D)=3














Setelah melalui proses filtering dan stemming, maka kata “antar” pada dokumen kedua serta kata “dalam” dan “terdapat” pada dokumen ketiga
dihapus. Tahap pembuangan ini akan dilakukan pada proses filtering menggunakan algoritma stoplist (membuang kata yang tidak penting).
Dari hasil pada Gambar 5, yang diimplementasikan dengan matriks 2*2, akan dapat dihitung bobot W, tapi masalah yang terjadi adalah nilai bobot untuk D1 dan D2 adalah sama. Untuk mengatasi hal ini digunakan algoritma Vector – Space. Ide dari metode ini adalah dengan menghitung nilai kosinus sudut dari dua vektor, yaitu: W dari tiap dokumen dan W dari kata kunci. Kemudian dilakukan perhitungan lagi ke dalam matriks 2*2, sebagaimana hasilnya terlihat dalam Gambar 6.



















Setelah mendapatkan nilai maka digunakan persamaan 1, misalnya untuk D3:
cos(D3)=sum(kk*D3)/[sqrt(kk)*sqrt(D3))]
= 0.093/[0.249 * 0.643]
= 0.581












Dari hasil perhitungan di atas, maka akan
didapatkan:




Untuk memaksimalkan algoritma TF/IDF dan Vector Space maka diterapkan derajat asosiasi. Derajat asosiasi adalah proses pencarian kata dari tiap dokumen yang memiliki relevansi terhadap kata kunci. Jadi setiap kata kunci yang akan dimasukkan sistem akan dicatatkan history-nya ke dalam HashTable yang disimpan di dalam RMS Chakrabarti (2003). Kemudian apabila ada kata kunci yang akan dicari memiliki relevansi maka kata yang ada di dalam HashTable akan diikutsertakan di dalam perhitungan bobot TF/IDF. Apabila pengguna melakukan pencarian dengan kata kunci “hacker” maka aplikasi akan mencatat kata–kata apa saja yang masuk ke dalam perhitungan bobot, lihat Dhillon (2001).
Contoh:
LOG 1:
Kata yang ikut perhitungan bobot TF/IDF
hack,intruder
LOG 2:
Kata yang ikut perhitungan bobot TF/IDF
nmap, scan, Ethical
Maka Aplikasi akan merubah menjadi: nmap, scan, Ethical, hack, intruder
Jadi kata yang memiliki kesamaan kata kunci akan diikutsertakan. Hal ini akan menjadikan penambahan bobot sehingga dokumen dapat benar – benar diseleksi karena perbendaharaannya yang diatur pada derajat asosiasi.

4.3 Download Manager
Gambar 7 menunjukkan proses kerja Byte Streaming dan juga Prokotol untuk pemecahan file. Setiap informasi akan dicatat ke dalam RMS. Gambaran hasil tercapai dapat dilihat pada Gambar 8.
















5. EVALUASI
Evaluasi dilakukan terhadap 28 responden mahasiswa kelas Basis Data G Teknik Informatika UK. Maranatha semester ganjil 2008/09, untuk melihat performa aplikasi Smart Download. Dalam pengujian Black Box yang diuji adalah
menu utama, yaitu: Menu Home, Menu Search, Menu Download, Menu Bookmarks, dan Menu Option. Uji kasus dibuat dengan tiga macam skenario yang berbeda. Skenario yang digunakan adalah:
1. Fungsionalitas Advanced Search
Pada tahap ini pengujian dilakukan dengan melakukan pencarian terhadap kata kunci: antivirus, mp3, avi, ebook, dan free program dengan banyak dokumen 30. Gambar 9 menunjukkan hasilnya. Hasil Google akan dibandingkan dengan hasil pencarian dari aplikasi dengan melihat berapa halaman yang berubah posisi menjadi lebih baik. Terlihat bahwa dengan penggunaan operator Advanced Search, hasil pencarian menunjukkan jumlah dokumen yang spesifik terhadap kata kunci.
2. Fungsionalitas Download Manager Terhadap Protokol
Pengujian dilakukan pada emulator dan gadget (handphone sungguhan). Dari segi fungsionalitas aplikasi dapat berjalan dengan baik. Hanya untuk melakukan penulisan dan koneksi untuk gadget, terhalang oleh certificate yang tertanam di dalam handphone, baik untuk merek Sony Erickson maupun Nokia yang berbasis Java .












Dengan certificate yang asli, aplikasi akan mempunyai otoritas terhadap security internal. Untuk mencoba fungsionalitas dari Download Manager, maka melakukan percobaan dengan melakukan akses dengan protocol HTTP, HTTPS, dan FTP.
















Pada Gambar 10, terlihat bahwa performa pemecahan file dengan byte stream lebih baik, dan terbukti dapat digunakan untuk mengambil dokumen dari server dengan protokol yang berbeda-beda.

3. Fungsionalitas Mining dengan dokumen yang beragam
Untuk melakukan fungsionlitas dari text mining ini maka pengujian dilakukan ke dalam 2 skenario yaitu:
o Perbandingan dengan Google
Skenario yang digunakan adalah dengan melakukan seleksi terhadap 30 dokumen. Kata kunci yang digunakan adalah java, hacker, mining, spyder, dan OOP.
Pada Gambar 11, terlihat bahwa terjadi perubahan posisi (relevansi) yang terjadi, setelah dilakukan text-mining.
o Relevansi yang terjadi dengan banyak dokumen
Skenario yang dibuat adalah dengan mengunakan kata kunci seperti pada skenario
sebelumnya kemudian mencoba melakukan uji coba dengan seleksi terhadap dokumen non- Indonesia.

















Pada Gambar 12, terlihat bahwa relevansi hasil text-mining dengan kata kunci tidak dipengaruhi oleh banyaknya dokumen yang diseleksi.
















RESPON :
Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil evaluasiyaitu secara umum aplikasi ini menghasilkan nilai guna yang cukup tinggi. Aplikasi ini memberikan solusi pada masalah pencarian file berbahasa Indonesia dan juga dapat melakukan download file.
pada handphone. Fitur mining yang diberikan oleh aplikasi dianggap berguna oleh pengguna untuk membantu melakukan pemilihan terhadap data yang
akan diambil. Presentase ketepatan text-mining dapat lebih dimaksimal lagi dengan melakukan seleksi terhadap setiap kata yang ada di dalam dokumen, kemudian dihitung asosiasinya dengan kata kunci.Untuk memperbaiki performa aplikasi, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:
• Penerapan algoritma mining dapat dipindahkan dari handphone ke dalam server dengan menjalankan fasilitas web services yang ada pada Java.
• Penambahan help dan user manual yang digunakan untuk aplikasi.
• Aplikasi dapat melakukan pendataan user siapa saja yang sudah melakukan pencarian dokumen dan mencatat setiap log sesuai kebutuhan user, sehingga dapat membentuk collaborative searching.





















DAFTAR PUSTAKA :

Chakrabarti, Soumen, 2003, Mining the Web:
Discovering knowledge from hypertext data.
San Francisco: Morgan Kaufman
Calishain, Tara. 2003. Google Hack.O’Reilly
Dhillon, Inderjit S., Dharmendra S. Modha, 2001,
Concept Decompositions for Large Sparse Text
Data using Clustering, Machine Learning, vol.
42, no. 1, pp. 143-175, January 2001
Google, Advanced Google Search Operators,
Retrieved February 2nd, 2009 from
http://www.google.com/help/operators.html
Mooney, Raymond. 2006. Machine Learning Text
Categorization. Austin: University of Texas
Tala, Fadillah Z., 2003, A Study of Stemming
Effects on Information Retrieval in Bahasa
Indonesia. Institute for Logic, Language and
Computation Universeit Van Amsterdam
Tan, A., 1999, Text mining: The state of the art and
the challenges, In Proceedings of the Pacific
Asia Conference on Knowledge Discovery and
Data mining, PAKDD'99 workshop on
Knowledge Discovery from Advanced
Databases.p.65-70
Porter, M. F. ,1980, An algorithm for suffix
stripping, Program 14(3), p. 130-137
Lewis, Edward. 2008. Top 10 Search Engine.
Retrieved January 5th, 2008 from
http://www.seoconsultants.com/search engines/
Wirya Santika, Faisal. 2009. Membangun Wireless
Application Menggunakan Teknologi J2ME.
Retrieved January 5th, 2009 from
http://ilmukomputer.org/2008/11/25/membang
un-wireless-application-menggunakanteknologi-
j2me/



Pengarang : Andre Kurniawan dan Hapnes Toba
E-mail : hackersmooth88@gmail.com dan hapnestoba@yahoo.com
Situs : http://www.seoconsultants.com/search
http://ilmukomputer.org/
IN THE NAME OF ALLAH


KELOMPOK 9 :

1)LALU PUJI INDRA KHARISMA (080403010052)
2)AGUS SYAEFULLAH (080403010056)
3)YUAN EKA PRAMUDITA (080403010003)


RANCANGAN KEAMANAN DATA SISTEM
SMARTCARD KESEHATAN SESUAI KEBUTUHAN DI
INDONESIA

ABSTRAKSI

Informasi rekam medis seseorang merupakan salah satu faktor yang menentukan
kualitas pelayanan yang diberikan oleh pusat pelayanan kesehatan kepada pasiennya,
oleh sebab itu informasi rekam medis ini harus selalu ada ketika dibutuhkan. Kerahasiaan informasi rekam medis sangat penting karena informasi ini menjelaskan hubungan yang khusus antara pasien dan dokter, yang wajib dilindungi dari pembocoran sesuai dengan kode etik kedokteran dan peraturan perundangan yang berlaku. Berdasarkan penelitian sebelumnya, teknologi kartu pintar (smartcard) menawarkan kemudahan dan keamanan penyimpanan data karena adanya mekanisme enkripsi data sebelum data tersebut disimpan di dalam memori, serta adanya pin (kode rahasia) yang menjaga data tersebut agar tidak dibaca oleh pihak yang tidak berwenang[ISO7816-95]. Smartcard juga dapat dibawa dengan mudah sehingga menunjang ketersediaan data kapan saja ketika dibutuhkan.
Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang suatu sistem rekam medis yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan rekam medis di Indonesia, menjamin keamanan data, mudah dibawa oleh pemilik, memaksimalkan pelayanan kesehatan untuk kondisi gawat darurat, dan mempercepat serta meningkatkan pelayanan kesehatan rawat jalan pada satu rumah sakit atau bahan rujukan antar rumah sakit.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka penulis akan mempelajari peraturan pemerintah tentang rekam medis dan melakukan observasi lapangan di rumah sakit, mengenal beberapa sistem rekam medis dengan menggunakan smartcard yang ada di negara–negara lain sehingga diperoleh sistem smartcard kesehatan yang paling aman dari antara sistem-sistem tersebut. Berdasarkan sistem yang paling aman tersebut akan dirancang suatu protokol sistem smartcard kesehatan yang sesuai dengan tujuan di atas. Rancangan protokol tersebut akan diuraikan secara jelas dan menitikberatkan pada keamanan data.
Hasil dari tugas akhir ini adalah rancangan suatu sistem smartcard kesehatan yang memenuhi peraturan kesehatan Indonesia, menjamin keamanan dan kerahasiaan data, mempercepat dan meningkatkan pelayanan kesehatan, serta dapat digunakan oleh berbagai perangkat lunak aplikasi smartcard kesehatan (interoperability).

BAB I
PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan latar belakang masalah, tujuan, ruang lingkup dan pembatasan masalah, metode penelitian yang dilakukan, dan sistematika penulisan tugas akhir ini.

I.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan, dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan pasien. Informasi rekam medis merupakan suatu informasi penting seseorang yang seharusnya dimiliki oleh orang tersebut setiap saat sehingga dapat tersedia jika dibutuhkan kapan saja dan dimana saja. Informasi ini penting untuk menunjang pelayanan kesehatan yang diberikan dalam hal kecepatan dan keakuratan. Tata kerja rekam medis di rumah sakit bertujuan untuk terlaksananya pengaturan kegiatan rekam medis dengan tepat, cepat dan benar. Hal penting dari pencatatan informasi rekam medis ini adalah ketersediaannya saat dibutuhkan dan sifat kerahasiaannya. Informasi dalam rekam medis bersifat rahasia karena hal ini menjelaskan hubungan yang khusus antara pasien dan dokter yang wajib dilindungi dari pembocoran sesuai dengan kode etik kedokteran dan peraturan perundangan yang berlaku.
Teknologi smartcard menawarkan kemudahan dan keamanan penyimpanan data karena adanya mekanisme enkripsi data sebelum data tersebut disimpan di dalam memori, serta adanya pin (kode rahasia) yang menjaga data tersebut agar tidak dibaca oleh pihak yang tidak berwenang. Setiap smartcard telah diprogram oleh perusahaan yang mengeluarkannya atau dilengkapi dengan sistem operasi. Sistem operasi ini menyediakan bahasa/perintah yang dimengerti oleh smartcard tersebut.
Keunggulan smartcard dalam hal : kemudahan pengaksesan data, keamanan penyimpanan data, perlindungan data dari pihak-pihak yang tidak berwenang, serta fleksibilitas untuk dibawa dengan mudah dalam kegiatan seharihari, telah mendorong penggunaan teknologi ini diterapkan di sektor kesehatan untuk menyimpan data rekam medis pasien. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan penggunaan smartcard kesehatan ini pada proses pengobatan adalah :
menyimpan kerahasiaan data pemilik smartcard, menyediakan informasi penting dalam keadaan darurat, bahan rujukan, membantu petugas kesehatan melakukan tindakan kesehatan dengan benar dan mengurangi waktu pasien dalam menyelesaikan masalah administrasi di rumah sakit. Keterbatasan smartcard pada saat ini adalah dalam hal memori. Dalam perkembangan ke masa depan, tidak tertutup kemungkinan bahwa jumlah memori yang disediakan dalam smartcard akan semakin bertambah. Semakin bertambahnya memori maka harga smartcard juga akan semakin bertambah, namun kemampuan smartcard dalam hal menyimpan dan mengenkripsi data akan semakin bertambah pula.

I.2 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian tugas akhir ini adalah untuk merancang system smartcard kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan dan peraturan di Indonesiadengan mengacu pada teknologi sistem smartcard kesehatan yang sudah diimplementasikan di luar negeri.


I.3 RUANG LINGKUP DAN PEMBATASAN MASALAH

I.3.1 Ruang Lingkup :

Tugas akhir ini melingkupi :
1.Mempelajari peraturan pemerintah Indonesia tentang rekam medis dan observasi lapangan proses penggunaan data rekam medis untuk proses pengobatan di rumah sakit.
2.Mempelajari beberapa aplikasi sistem smartcard kesehatan yang diimplementasikan di Negara lain.
3.Merancang sistem smartcard kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan dan
peraturan di Indonesia dengan mengacu pada teknologi sistem smartcard
kesehatan yang sudah diimplementasikan di luar negeri.

I.3.2 Pembatasan Masalah :

Pembatasan masalah pada tugas akhir ini adalah :

1)Teori kriptografi dan teknologi smartcard dibahas secara umum, tidak lagi secara rinci karena penelitian terhadap kedua hal tersebut sudah dilakukan pada penelitian-penelitian sebelumnya.
2)Rancangan sistem smartcard kesehatan pada tugas akhir ini lebih bertitik berat pada aspek teknologi keamanan data, baik keamanan data yang disimpan dalam smartcard maupun keamanan data waktu dikirimkan lewat jaringan komputer. Dengan demikian aspek bisnis dari rancangan tersebut tidak dibahas dalam tugas akhir ini.
3)Tidak mengimplementasi rancangan sistem smartcard kesehatan yang dihasilkan.


I.4 METODE PENELITIAN

Penelitian dimulai dengan melakukan observasi terhadap sistem rekam medis di rumah sakit dan mempelajari peraturan-peraturan pemerintah tentang rekam medis di Indonesia. Selanjutnya mempelajari secara umum aplikasi sistem-sistem smartcard kesehatan yang telah diimplementasikan di negara lain. Kemudian penelitian diteruskan dengan mempelajari teknologi smartcard dan teori kriptografi yang digunakan smartcard untuk menjamin keamanan penyimpanan data dari pihak-pihak yang tidak memiliki otoritas. Selain itu juga mempelajari spesifikasi sistem smartcard kesehatan yang interoperability yaitu jenis sistem smartcard kesehatan yang dapat membaca berbagai sistem smartcard kesehatan dari vendor yang berbeda. Selanjutnya penelitian dilanjutkan dengan analisis kebutuhan umum yang diperlukan oleh sistem smartcard kesehatan di
Indonesia. Berdasarkan analisis kebutuhan umum tersebut ditetapkan kriteriakriteria
suatu sistem smartcard kesehatan yang sesuai dengan peraturan dan kebutuhan di Indonesia.

Kriteria-kriteria tersebut digunakan untuk melakukan perbandingan sistemsistem
smartcard kesehatan yang ada di luar negeri sehingga didapat suatu system smartcard kesehatan yang paling mendekati peraturan dan kebutuhan di Indonesia. Sistem ini digunakan sebagai solusi awal untuk merancang protocol sistem smartcard kesehatan kesehatan. Berdasarkan sistem hasil perbandingan dirancang suatu sistem smartcard kesehatan yang memenuhi peraturan dan kebutuhan di Indonesia. Teknologi pengamanan data pada smartcard dalam sistem ini dianalisis dengan menggunakan teori kriptografi. Transaksi pada sistem ini diuraikan dan dianalisis segi keamanan datanya.Kemudian diambil kesimpulan rancangan sistem smartcard kesehatan apakah sudah dapat memenuhi semua spesifikasi yang sesuai dengan kondisi di Indonesia. Selanjutnya penulis mengajukan saran pengembangan rancangan protokol dalam tugas akhir ini di masa depan atau sebagai langkah penyempurnaan rancangan protokol ini.

BAB II
LANDASAN TEORI
Bab ini menjelaskan hal-hal yang menjadi landasan teori dalam merancang
sistem smartcard kesehatan di Indonesia. Terlebih dahulu dibahas mengenai definisi
rekam medis.

II.1 REKAM MEDIS
Definisi rekam medis adalah keterangan baik yang tertulis maupun terekam, dan memuat informasi yang cukup dan akurat tentang identitas pasien, anamnesis, pemeriksaan, penentuan fisik, perjalanan penyakit, laboratorium, diagnosis, segala pelayanan dan tindakan medis serta proses pengobatan yang diberikan kepada pasien, dan dokumentasi hasil pelayanan; baik yang dirawat inap, rawat jalan maupun pelayanan gawat darurat di suatu sarana pelayanan kesehatan Sedangkan definisi elektronic medical record adalah data rekam medis yang diatur oleh suatu
badan tertentu seperti : rumah sakit, klinik, atau suatu jaringan komputer sehingga antar badan tersebut dapat saling beroperasi. Electronic medical record harus memiliki fungsi-fungsi penting sebagai berikut :
Terdapat sistem yang dapat mengidentifikasikan semua informasi pasien yang ada
dalam ruang lingkup suatu badan tertentu.
Menjamin semua informasi pasien tersedia bagi para petugas kesehatan dalam ruang lingkup suatu badan tertentu. Termasuk harmonisasi data, penyimpanan data, teknik data mining, mesin antar muka, jaringan, dsb. Hal ini bertujuan agar
antar badan yang satu dengan badan yang lain dapat saling beroperasi.
Mengimplementasikan ketentuan perangkat lunak, struktur dan antar muka system sehingga dokter, perawat atau petugas kesehatan lainnya terbiasa menggunakan komputer untuk memasukkan data atau untuk berinteraksi dengan program dalam mengambil keputusan.
Membuat keamanan sistem. Jika belum ada hukum nasional, maka badan tersebut harus mendefinisikan ketentuan hak (kerahasiaan, akses data rekam medis dan mengubah informasi pasien). Keamanan sistem yang harus diimplementasikan :
Kontrol akses : dapat menggunakan password atau biometric untuk mengotentikasi dan mengklasifikasikan pengguna sesuai dengan otorisasi mereka dalam mengakses informasi dan menggunakan fungsi tertentu.
Tanda tangan elektronik : sistem yang memperbolehkan pihak asli (petugas kesehatan atau alat akses data) untuk membubuhkan tanda tangan elektronik terhadap suatu masukan dan mendeteksi masukan-masukan yang telah diubah.
Integritas data : setelah proses perbaikan, tidak boleh ada informasi yang hilang atau diubah dengan cara apapun, perbaikan dibuat berdasarkan persetujuan.
Pemeriksaan : pemeriksaan lengkap terhadap akses ke suatu data dan tambahan lain yang dibuat dalam data.
Ketersediaan : sistem harus dirancang untuk tersedia 24 jam sehari, 7 hari seminggu

II.2 SMARTCARD

Smartcard adalah kartu plastik yang berukuran sama dengan kartu kredit yang di dalamnya terdapat chip silikon yang disebut microcontroller. Chip merupakan integrated circuit yang terdiri dari prosesor dan memori. Chip, seperti layaknya CPU (Central Processing Unit) di komputer, bertugas melaksanakan perintah dan menyediakan power ke smartcard. Smartcard merupakan pengembangan dari kartu magnetis, namun berbeda dengan kartu magnetis yang hanya dipakai sebagai tempat penyimpanan data, smartcard mempunyai kemampuan untuk memproses dan menginterpretasikan data, serta menyimpan data tersebut secara aman. Apalagi
dengan perkembangan algoritma kriptografi, data yang disimpan akan dienkripsi terlebih dahulu, sehingga tidak mudah dibaca oleh pihak yang tidak berwenang/berhak. Hal ini akan mempersulit pemalsuan smartcard. Selain perbedaan dengan adanya chip, smartcard memiliki kapasitas memori yang lebih besar dari kartu magnetis.

II.3 STANDAR INTEROPERABILITY SMARTCARD KESEHATAN

Interoperability antara sistem smartcard kesehatan adalah kemampuan suatu sistem smartcard kesehatan untuk membaca, menggunakan, dan mengubah data, yang dikeluarkan oleh sistem smartcard kesehatan lain[EUHCI96]. Sistem smartcard kesehatan adalah gabungan dari smartcard kesehatan dan semua perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan dalam implementasi kesehatan tertentu. Walaupun dua atau lebih proyek menggunakan teknologi yang sama untuk mengimplementasikan fungsi-fungsinya, tetap ada variasi dan ketidaksesuaian pada
berbagai implementasi. Oleh sebab itu, sangat penting untuk membangun system smartcard kesehatan yang interoperability.
Standar interoperability sistem smartcard kesehatan di dunia belum ada yang baku. Oleh karena itu, berbagai organisasi atau vendor berusaha untuk membuat standar interoperability sistem smartcard kesehatan. Pada tugas akhir ini, standar interoperability yang digunakan adalah standar dibuat oleh Uni Eropa dan Jepang yaitu EU/G7 Healthcards – W7[EUHCI96]. Berikut ini dijelaskan mengenai system yang diatur oleh standar interoperability EU/G7 Healthcards – W7.

BAB III
ANALISIS KEBUTUHAN RANCANGAN SISTEM SMARTCARD KESEHATAN SESUAI KEBUTUHAN
DI NDONESIA

Bab ini menganalisis kondisi sistem rekam medis yang berlaku di Indonesia berdasarkan peraturan pemerintah tentang rekam medis dan mengecek peraturan pemerintah tersebut dengan kondisi hasil observasi penggunaan data rekam medis di rumah sakit. Kemudian, dilakukan perbandingan sistem-sistem smartcard kesehatan yang ada di luar negeri dengan menggunakan kondisi sistem rekam medis Indonesia.
Dari analisis tersebut akan disimpulkan teknologi sistem smartcard kesehatan yang
paling mendekati dengan kebutuhan di Indonesia. Teknologi sistem smartcard
kesehatan tersebut digunakan sebagai dasar untuk perancangan sistem smartcard
kesehatan yang memenuhi kebutuhan di Indonesia.

III.1 ANALISIS KONDISI SISTEM REKAM MEDIS DI INDONESIA
BERDASARKAN HASIL OBSERVASI PENGGUNAAN DATA REKAM
MEDIS DI RUMAH SAKIT

Pada saat ini sistem rekam medis rumah sakit di Indonesia menggunakan kertas sebagai media penyimpanan data rekam medis para pasiennya. Di luar negeri sudah diimplementasikan sistem rekam medis elektronik dimana smartcard digunakan sebagai media penyimpanan rekam medis elektronik seseorang. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang sistem smartcard kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di Indonesia, oleh sebab itu lebih dahulu dianalisis kondisi sistem rekam medis di Indonesia berbasis kertas yang ada sekarang. Kondisi-kondisi yang dipilih adalah hasil observasi terhadap penggunaan data rekam medis yang dilakukan di
rumah sakit. Kondisi-kondisi tersebut antara lain :
a)Kebutuhan 1 : Pihak yang membaca data rekam medis, sesuai dengan hukum/peraturan rekam medis di Indonesia, haruslah pihak yang berwenang. Pihak yang berwenang adalah dokter, tenaga medis (perawat, bidan, tenaga laboratorium klinik, penata rontgen, anestesi, dan lain sebagainya), mahasiswa kedokteran yang sedang melakukan praktek klinik, dan tenaga kesehatan lain yang diberi wewenang khusus oleh direktur rumah sakit atau departemen kesehatanPada saat ini pegawai di rumah sakit dapat mengambil dan
membaca data rekam medis asalkan mengembalikan data rekam medis tersebut ke tempat penyimpanannya kembali. Data rekam medis merupakan data sensitive sehingga harus dijaga kerahasiaannya. Pihak yang membaca data rekam medis haruslah mendapat ijin atau sepengetahuan pasien.
b)Kebutuhan 2 : Menurut hukum/peraturan rekam medis Indonesia bahwa setiap dokter yang membuat, menambah dan melakukan koreksi terhadap data rekam medis harus menandatangani rekam medis tersebut. Hal ini sangat penting dalam sistem rekam medis di Indonesia karena jika terjadi kesalahan tindakan pengobatan maka pihak yang melakukan diagnosa dapat dituntut secara hukum.Tanda tangan tersebut digunakan sebagai bukti yang tidak dapat disangkal oleh si pembuat diagnosa. Namun pada sistem rekam medis sekarang, tanda tangan dapat dipalsukan dan kemungkinan kerusakan terhadap tanda tangan di kertas dapat terjadi (sebagai contoh : tanda tangan terkena air, kotor, atau kertas tanda tangan robek).
c)Kebutuhan 3 : Dokter yang membuat diagnosa harus yakin bahwa data rekam medis yang disimpan dan dibaca kembali tidak diubah oleh pihak yang tidak berwenang. Pihak yang tidak berwenang adalah semua pihak yang tidak berhubungan dengan proses pengobatan pemilik data rekam medis dan pihak lain yang tidak mendapat ijin dari direktur rumah sakit atau departemen kesehatan. Informasi yang disimpan dalam berkas rekam medis harus merupakan informasi yang benar, agar penggunaan selanjutnya tidak terjadi
kesalahan pengobatan, dimana mungkin saja kesalahan tersebut membahayakan jiwa si pemilik data rekam medis. Jika terjadi koreksi pada rekam medis maka harus diberi paraf oleh pihak yang melakukan koreksi tersebut. Pada system sekarang, dokter tidak dapat memastikan bahwa data rekam medis yang dibuatnya atau yang dikoreksinya tidak dapat diubah oleh pihak-pihak lain yang tidak berwenang karena tidak ada prosedur yang membuktikan bahwa data rekam medis sekarang dan data rekam medis asli adalah sama.
d)Kebutuhan 4 : Pada sistem rekam medis sekarang tidak menyediakan pencatatan
terhadap data rekam medis yang dikoreksi. Seharusnya pihak rumah sakit melakukan pencatatan tersebut sebagai barang bukti sehingga pencatatan ini semakin memperkecil kemungkinan penyangkalan tenaga medis yang melakukan koreksi terhadap data rekam medis.
e)Rekam medis harus dapat digunakan untuk kepentingan rawat jalan, bahan rujukan dan keadaan gawat darurat setiap saat Hukum/peraturan di Indonesia menyatakan bahwa data rekam medis merupakan milik si pasien sehingga pasien tersebut berhak menggunakan data rekam medisnya untuk kepentingannya kapan saja. Pada sistem rekam medis di Indonesia sekarang ini, ketiga hal di atas kurang dapat didukung,
f)Kebutuhan 6 : Data rekam medis harus dijamin kerahasiaannya dari pihak yang
tidak berwenang. Data rekam medis merupakan milik si pasien oleh sebab itu pasien berhak untuk merahasiakannya. Setiap penggunaan data rekam medis yang tidak diketahui oleh pasien dan bukan untuk tujuan pengobatan tidak diperbolehkan.
g)Kebutuhan 7 : Rekam medis harus dapat dimengerti dan digunakan oleh berbagai
rumah sakit dan dokter. Jadi harus ada standar yang jelas mengenai kode penyakit
dan tindakan kesehatan yang disimpan.

III.2 DESKRIPSI UMUM SISTEM SMARTCARD KESEHATAN YANG
TELAH DIIMPLEMENTASIKAN

Sebelum membandingkan sistem-sistem smartcard kesehatan di luar negeri dengan kondisi-kondisi di Indonesia agar dapat dianalisis apakah sistem tersebut dapat diimplementasikan di Indonesia, terlebih dahulu dideskripsikan system smartcard kesehatan secara umum. Perancis, Jerman, Amerika serikat, Kanada, Singapura, Hongkong dan negara-negara lain telah mengimplementasikan system smartcard kesehatan di negaranya sebagai pengganti sistem rekam medis berbasis kertas. Bagian ini mendeskripsikan secara umum sistem-sistem smartcard kesehatan yang telah diimplementasikan di luar negeri. Ada lima sistem smartcard kesehatan yang dianalisis yaitu sistem smartcard kesehatan Motus,Oberthur, Microchart, Orga, dan Precis. Dasar pemilihan kelima sistem tersebut adalah karena kelengkapan informasi yang dapat diperoleh dan adanya perbedaan diantara kelima system tersebut. Sistem-sistem smartcard kesehatan yang sama atau hampir sama tidak diambil sebagai contoh, karena sudah tercakup pada sistem yang terpilih. Pada umumnya kelima sistem smartcard kesehatan yang telah diimplementasikan tersebut bertujuan untuk :
a)Mengurangi pengisian data dan biaya untuk melakukan tes kesehatan yang sama setiap saat.
b)Mengurangi waktu pencarian data rekam medis.
c)Meningkatkan komunikasi bagi pasien yang tuna rungu, kurang pendengaran, atau setiap pasien yang kesulitan berkomunikasi.
d)Pengingat rutinitas check up yang tidak boleh absen. Membantu untuk memonitor penyakit kronis seperti penyakit jantung atau diabetes.
e)Menjaga semua data imunisasi secara permanen dan tersedia setiap waktu. Mengurangi kemungkinan terjadinya interaksi obat yang dapat membahayakan jiwa pasien pada waktu pengobatan.
f)Memberikan data yang sesuai dan fakta untuk menolong dokter atau tenaga kesehatan membuat keputusan penting secara cepat sehingga meningkatkan pelayanan pengobatan yang diberikan.
g)Melakukan pembayaran terhadap klaim asuransi kesehatan sehingga pihak rumah
sakit tidak perlu memastikan dahulu sebelum memberikan tindakan pengobatan,
bahwa pasien yang sedang dirawat memiliki pihak penjamin biaya pengobatan.

III.3 PERBANDINGAN SISTEM SMARTCARD KESEHATAN DI LUAR
NEGERI DENGAN KONDISI-KONDISI DI INDONESIA

Setelah menganalisis kondisi sistem rekam medis di Indonesia dan mengetahui gambaran secara umum sistem smartcard kesehatan yang telah diimplementasikan di luar negeri maka akan dilakukan perbandingan sistem-sistem smartcard kesehatan yang telah diimplementasikan di luar negeri dengan menggunakan criteria perbandingan adalah kondisi-kondisi sistem rekam medis di Indonesia. Perbandingan ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan sistem smartcard kesehatan tersebut dalam memenuhi kebutuhan di Indonesia. Berdasarkan analisis kondisi sistem rekam medis di Indonesia, deskripsi umum sistem smartcard kesehatan yang telah diimplementasikan, dan fungsi-fungsi yang harus dipenuhi oleh electronic medical record, maka sistem-sistem smartcard kesehatan tersebut haruslah mendukung:
a)Kebutuhan 1 : Menyediakan proses otentikasi pihak-pihak yang mengakses
smartcard. Kelima sistem smartcard kesehatan yang dibandingkan, semuanya menggunakan PIN untuk proses otentikasi. Jika nilai PIN yang dimasukkan sama dengan nilai PIN yang ada di dalam smartcard maka pengguna smartcard diberi otoritas untuk
membaca isi smartcard dan memakai fungsi-fungsi dalam smartcard yang diwewenangkan kepadanya. Nilai PIN pada setiap smartcard kesehatan bernilai
unik dan hanya diketahui oleh pemilik smartcard. Dengan cara ini dijamin bahwa hanya pemilik smartcard yang dapat mengakses data rekam medis.
b)Kebutuhan 2 : Tanda tangan digital. Untuk memenuhi kebutuhan kedua maka sistem smartcard kesehatan harus mendukung tanda tangan digital. Dari kelima sistem smartcard kesehatan hanya dua sistem yang mendukung fasilitas penandatanganan digital oleh dokter atau tenaga kesehatan yang membuat, menambah dan melakukan koreksi data rekam medis. Kedua sistem tersebut adalah Motus dan Precis, sedangkan ketiga sistem
lainnya, yaitu Microchart, Oberthur, dan Orga, tidak menggunakan fasilitas penandatangan digital. Smartcard kesehatan profesional yang dimiliki oleh dokter
berisi identitas pribadi, kunci privat, dan kunci publik. Rekam medis yang baru
di-hash oleh perangkat lunak aplikasi, hasilnya disebut sebagai sidik jari dari
rekam medis tersebut. Sidik jari dan time stamp dikirimkan ke smartcard profesional dokter.
c)Kebutuhan 3 : Menjamin keutuhan data rekam medis setelah terjadi proses pengubahan.
Untuk membuktikan bahwa data rekam medis tidak mengalami pengubahan waktu disimpan dalam smartcard maka pasien akan membuat sidik jari dari pesan yang disimpan dan kemudian membandingkan dengan sidik jari yang ada pada tanda tangan digital. Jika kedua sidik jari itu identik, maka pasien tersebut dapat yakin bahwa pesan itu utuh tidak diubah-ubah sejak disambungkan dengan tanda tangan digital tenaga kesehatan yang berwenang. Jika data rekam medis tersebut diubah maka akan menghasilkan nilai
hash yang berbeda. Jaminan dari keamanan sidik jari berangkat dari kenyataan bahwa hampir tidak ada dua pre-image yang memiliki nilai hash yang sama.

d)Kebutuhan 4 : Menyediakan pencatatan yang dapat dijadikan barang bukti
penambahan atau koreksi data rekam medis.Kelima sistem smartcard kesehatan yang ada melakukan pencatatan terhadaptransaksi data rekam medis yang dibaca, dibuat atau dikoreksi. Data-data yang dicatat adalah identitas pengguna, tanggal dan waktu pengaksesan data dan alasanmelakukan akses terhadap data. Daftar pencatatan ini disimpan dalam basis data lokal yang aman sehingga tidak ada pihak yang tidak berwenang dapat menghapus bukti pencatatan transaksi pengaksesan data.
e)Kebutuhan 5 : Mendukung informasi untuk kebutuhan rawat jalan, bahan rujukan dan keadaan gawat darurat setiap saat.
f)Kebutuhan 6 : Menjamin kerahasiaan data dari pihak yang tidak berwenang.
 Motus dan Precis : Sistem keamanan kedua sistem ini menggunakan mekanisme enkripsi kunci asimetris, yang menggunakan pasangan kunci privat dan publik. Kelemahan utama kriptografi asimetris adalah proses enkripsi dan dekripsi yang lambat dan mahal. Oleh sebab itu pada system Precis data rekam medis dalam smartcard dienkripsi dengan menggunakan kunci simetris perangkat lunak aplikasi, sedangkan pada sistem Motus data rekam medis dalam smartcard dienkripsi dengan menggunakan kunci privat perangkat lunak aplikasi.
 Microchart : tidak menggunakan mekanisme enkripsi sama sekali. Data hanya
dilindungi oleh PIN. Sehingga jika pencuri informasi rekam medis berhasil
menyadap data rekam medis yang dikeluarkan oleh perangkat lunak aplikasi
maka pencuri tersebut langsung dapat mengerti isi informasi yang disadapnya.
Sistem ini sangat tidak aman.
g)- Kebutuhan 7 : Smartcard dapat diakses oleh semua perangkat lunak aplikasi sistem smartcard kesehatan ( interoperability ).
Kelima sistem smartcard kesehatan belum menerapkan standar interoperability sehingga untuk mengakses data dalam smartcard hanya dapat dengan menggunakan perangkat lunak aplikasi yang dikeluarkan oleh vendor yang sama. Hal ini tidak mendukung kebutuhan bahwa data rekam medis dapat digunakan oleh berbagai pihak.

III.4 ANALISIS KEBUTUHAN UMUM SMARTCARD KESEHATAN YANG
SESUAI KEBUTUHAN DI INDONESIA
Berdasarkan perbandingan beberapa teknologi sistem smartcard kesehatan di luar negeri yang disesuaikan dengan kondisi sistem rekam medis di Indonesia, diperoleh hasil bahwa sistem smartcard kesehatan di luar negeri dapat memenuhi hamper sebagian besar kebutuhan sistem rekam medis di Indonesia. Untuk mengimplementasikan teknologi sistem smartcard kesehatan yang telah dibahas di atas di Indonesia, maka beberapa hal yang harus diasumsikan adalah sebagai berikut :
a)Masyarakat yang menggunakan smartcard kesehatan adalah masyarakat golongan
menengah ke atas karena harga smartcard yang termurah sekalipun lebih mahal dari kertas dan untuk mengimplementasikan teknologi sistem rekam medis berbasis smartcard tidaklah murah. Selain itu, golongan masyarakat menengah ke atas lebih menginginkan kerahasiaan data rekam medis miliknya dan kemudahankemudahan
yang ditawarkan oleh sistem smartcard kesehatan ini, walaupun untuk kedua hal tersebut mereka harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan sistem rekam medis berbasis kertas yang ada sekarang.
b)Rumah sakit yang mengimplementasikan sistem smartcard kesehatan adalah rumah sakit yang memiliki kondisi :
Sudah terhubung ke jaringan komputer.
Memiliki PC dan card reader yang terhubung dengan PC tersebut untuk membaca dan menulis data ke/dari smartcard.
Sumber daya manusia yang dapat menggunakan aplikasi komputer.
Memiliki modal keuangan yang cukup untuk mengimplementasikan sistem
smartcard kesehatan.
Dari perbandingan sistem smartcard kesehatan dapat disimpulkan bahwa sistemsistem
yang memenuhi hampir sebagian besar kebutuhan-kebutuhan penggunaan data rekam medis di Indonesia (yaitu memenuhi hal-hal berikut: hanya pihak yang berwenang yang dapat mengakases data di dalam smartcard (otentikasi), tanda tangan digital, menjamin pengubahan data tidak dapat dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang (integritas data), pencatatan transaksi, kelengkapan data rekam medis yang disimpan di dalam smartcard, mekanisme enkripsi yang digunakan) adalah sistem smartcard kesehatan Motus dan sistem smartcard kesehatan Precis.
Kebutuhan-kebutuhan umum smartcard kesehatan yang sesuai dengan kondisi di
Indonesia, yang dapat didefinisikan dari sistem smartcard kesehatan yang telah dibandingkan dan kondisi sistem rekam medis Indonesia, adalah sebagai berikut :
1.Hal-hal yang harus didukung oleh sistem smartcard kesehatan :
Terdapat card centre sebagai pihak yang mengeluarkan smartcard dan menyimpan data-data
Pihak-pihak yang membaca informasi dalam smartcard dapat diyakini keabsahannya (authenticity).
Informasi dalam smartcard hanya boleh diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan (yaitu pemilik smartcard, dokter yang merawat, staf rumah sakit, apoteker), sehingga kerahasiaannya (confidentiality) terjamin.
Pengubahan informasi dalam smartcard harus ditandatangani oleh pihak yang dapat melakukan pengubahan yaitu dokter yang merawat.
Informasi dalam smartcard tidak bisa diubah-ubah oleh pihak-pihak yang tidak berwenang.
Ada bukti sah yang tidak dapat disangkal (non-repudiation) untuk pihak-pihak
yang menambah, membuat, atau melakukan koreksi terhadap informasi dalam smartcard.
Dalam keadaan darurat, data rekam medis dalam smartcard pasien dapat langsung terbaca.
Pasien yang kehilangan smartcard kesehatannya dapat dengan mudah memperoleh kembali smartcard kesehatan baru lengkap dengan data rekam medis yang disimpan dalam smartcard yang lama.
Rumah sakit yang sedang melakukan pengobatan dapat meminta data rekam medis pasiennya kepada rumah sakit lain.
Smartcard dapat dibaca oleh segala program aplikasi sistem smartcard kesehatan dari berbagai vendor.
2.Kebutuhan pengguna sistem smartcard kesehatan yang interoperability adalah :
a)Smartcard kesehatan dokter membutuhkan sistem pengakses kartu yang :
Mengenali smartcard kesehatan secara otomatis dan siap membaca
smartcard tersebut.
Membaca data dari smartcard yang dikeluarkan oleh sistem smartcard kesehatan lain.
Menampilkan data yang telah dibaca dalam bentuk yang dapat dimengerti pemilik smartcard.
Terintegrasi dengan sistem informasi operasional lain yang pemilik gunakan.
b)Pasien membutuhkan smartcard kesehatan yang :
Menyimpan data administrasi dan data gawat darurat yang dibutuhkan.
Menyiapkan akses read-only ke informasi yang interoperable yang sesuai melalui berbagai sistem pengaksesan kartu yang interoperable.
Mengamankan informasi penting terhadap pengubahan yang ilegal.
Melindungi keutuhan informasi yang disimpan terhadap pengubahan yang ilegal.
c)Sistem pengembang dan integrasi membutuhkan :
Teknologi smartcard yang independen.
Teknologi Card Terminal yang independen.
3.Perangkat keras yang dibutuhkan pada sistem smartcard kesehatan :
Smartcard 8KB –16KB
Smartcard reader
PC
Modem
4.Perangkat lunak yang dibutuhkan pada sistem smartcard kesehatan :
Sistem operasi : windows
Perangkat lunak yang interoperability sehingga dapat membaca/menulis data dari/ke smartcard dari vendor manapun.
5.Teknologi smartcard yang digunakan :
Teknik enkripsi yang dipakai adalah perpaduan mekanisme asimetris dan simetris
Protokol yang digunakan untuk pertukaran data lewat jaringan adalah SSL (Secure Socket Layer) karena.protokol ini aman untuk otentikasi client dan server
Mendukung tanda tangan digital
Mendukung sertifikat digital
Mengacu pada salah satu standar interoperability yang ada.


BAB IV
RANCANGAN SISTEM SMARTCARD KESEHATAN
SESUAI KEBUTUHAN DI INDONESIA

Berawal dari analisis kebutuhan umum untuk sistem smartcard kesehatan di Indonesia dan teknologi sistem smartcard yang telah ada, pada bab sebelumnya telah disimpulkan bahwa dalam merancang sistem smartcard kesehatan Indonesia mengacu pada perpaduan teknologi sistem smartcard kesehatan yang telah diimplementasikan yaitu sistem Motus dan sistem Precis. Bab ini menguraikan secara lengkap perpaduan teknologi kedua sistem tersebut dan solusi tambahan untuk memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi oleh kedua sistem tersebut sehingga
diperoleh rancangan sistem smartcard kesehatan di Indonesia. Kemudian system smartcard kesehatan sesuai kebutuhan di Indonesia dianalisis apakah sudah memenuhi semua kebutuhan di Indonesia.


IV.1 SPESIFIKASI RANCANGAN

Pertama dijelaskan secara umum mengenai spesifikasi sistem smartcard kesehatan yang memenuhi kebutuhan di Indonesia melalui solusi awal. Kemudian solusi awal tersebut dijabarkan lebih rinci, baik dalam rancangan untuk keseluruhan sistem, rancangan untuk smartcard dan rancangan protokol pengiriman data lewat jaringan komputer.

IV.1.1 Solusi Awal
Spesifikasi sistem yang sudah ada yang telah memenuhi analisis kebutuhan di Indonesia, dapat digunakan sebagai solusi awal. Solusi-solusi awal tersebut dijabarkan di bawah ini :
1.Penggunaan password dan PIN agar pihak-pihak yang membaca informasi dalam
smartcard dapat diyakini keabsahannya.
2.Penggunaan kunci simetris perangkat lunak aplikasi untuk mengenkripsi data rekam medis di dalam smartcard agar informasi dalam smartcard hanya boleh dibaca oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
3.Penggunaan tanda tangan digital untuk menjamin bahwa hanya pihak yang berwenang yang berhak melakukan pengubahan.
4.Penggunaan sidik jari data rekam medis dan tanda tangan digital untuk menjamin bahwa informasi yang disimpan di smartcard tidak bisa diubah-ubah oleh pihakpihak
yang tidak berwenang sehingga keutuhan informasi tersebut terjamin.
5.Penggunaan fasilitas pencatatan identitas, waktu dan tanggal, bagi pihak-pihak yang membaca, menambah, melakukan koreksi terhadap data rekam medis. Data pencatatan ini digunakan sebagai bukti sah yang tidak dapat disangkal.
6.Untuk mengatasi pasien yang tidak sadarkan diri atau dalam keadaan darurat maka data rekam medis gawat darurat tidak dilindugi oleh password atau PIN.
7.Agar pasien yang kehilangan smartcard kesehatannya dapat dengan mudah memperoleh kembali smartcard kesehatan baru lengkap dengan data rekam medis
Miliknya.
8.Untuk mengatasi masalah seorang dokter dari poliklinik tertentu tidak dapat membaca data dari poliklinik lain atau untuk menjaga kerahasiaan suatu data rekam medis pribadi yang tidak diinginkan oleh pemilik smartcard terbaca oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan maka data-data rekam medis disimpan dalam direktori-direktori tertentu yang dilindungi dengan sebuah password atau PIN tertentu. Dengan adanya password atau PIN maka hanya pemilik smartcard yang dapat membaca data tersebut.
9.Penggunaan kunci privat dan publik untuk melakukan otentikasi pengiriman data
rekam medis lewat jaringan komputer.
10.Penggunaan sertifikat digital untuk menjamin bahwa suatu kunci public merupakan kunci publik yang sah.
11.Terdapat basis data rekam medis di setiap rumah sakit dan card centre. Data-data
rekam medis yang disimpan di basis data rumah sakit dan card centre tersebut
dienkripsi dengan menggunakan kunci simetris masing-masing pihak dandiasumsikan bahwa penyimpanan kunci simetris tersebut aman. Untuk mengatasi pengiriman dan permintaan data rekam medis oleh pihak-pihak yang berwenang melalui jaringan komputer maka semua rumah sakit yang mengimplementasikan sistem smartcard kesehatan harus terhubung ke jaringan komputer.
IV.1.1 Smartcard Yang Digunakan

Dalam sistem ini, perancangan protokol kriptografi dilakukan terhadap public key cards tetapi tidak secara spesifik untuk smartcard dari suatu vendor. Pemilihan public key cards adalah karena sistem keamanannya sangat baik karena mendukung kriptografi kunci publik atau kriptografi asimetris dan kriptografi simetris, serta dapat menyimpan kunci di dalam smartcard. Namun smartcard jenis ini harganya lebih mahal dibandingkan dengan smartcard memory protected atau microprocessor. Untuk masing-masing pasien dan tenaga medis hanya ada satu jenis smartcard kesehatan yaitu smartcard kesehatan pasien dan smartcard kesehatan profesional.

IV.1.5 Rancangan Pada Smartcard

Rancangan sistem smartcard kesehatan terbagi atas dua bagian besar yaitu pengiriman data antara aplikasi dan smartcard dan pengiriman data melalui jaringan komputer diantara pihak-pihak yang berwenang. Bagian ini menguraikan bagaimana data rekam medis disimpan dalam smartcard dan pertukaran pesan yang terjadi antara aplikasi dan smartcard.
a.Direktori data asuransi kesehatan : berisi data asuransi kesehatan pemilik smartcard. Hak akses : dapat dibaca oleh semua pihak, tidak membutuhkan password atau PIN pada awal masuk.
b.Direktori gawat darurat : berisi data rekam medis yang diperlukan dalam keadaan darurat . Hak akses : dapat dibaca oleh semua pihak, tidak membutuhkan password atau PIN tertentu yang berbeda dengan password untuk masuk ke smartcard.
c.Direktori berbagai poliklinik : berisi data rekam medis poliklinik-poliklinik yang pernah dikunjungi pemilik smartcard, bagian ini terbagi atas beberapa sub direktori. Hak akses : hanya dapat dibaca oleh pemilik smartcard, dengan memasukkan password atau PIN.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini menyimpulkan rancangan sistem smartcard kesehatan sesuai
kebutuhan di Indonesia dan saran-saran pengembangan terhadap rancangan sistem
tersebut.

V.1 KESIMPULAN

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan :
1.Berdasarkan hasil studi perbandingan dari beberapa sistem smartcard kesehatan,
ditemukan bahwa belum ada sistem smartcard kesehatan yang menggunakan sertifikat digital dan yang memenuhi sifat interoperability.
2.Rancangan sistem smartcard kesehatan sesuai kebutuhan di Indonesia dapat diimplementasikan dengan mengasumsikan hal-hal sebagai berikut :
a.Masyarakat yang menggunakan smartcard kesehatan adalah masyarakat
golongan menengah ke atas.
b.Rumah sakit yang mengimplementasikan sistem smartcard kesehatan adalah rumah sakit yang memiliki kondisi :
Sudah terhubung ke jaringan komputer.
Memiliki PC dan card reader yang terhubung dengan PC tersebut untuk membaca dan menulis data ke/dari smartcard.
Sumber daya manusia yang dapat menggunakan aplikasi komputer.
Memiliki modal keuangan yang cukup untuk mengimplementasikan sistem smartcard kesehatan.
3.Sistem smartcard kesehatan yang dirancang dalam tugas akhir ini dapat
mengatasi masalah :
a.Otentikasi pihak-pihak yang mengakses smartcard dengan menggunakan password atau PIN yang hanya diketahui oleh pemilik smartcard.
b.Keabsahan pihak-pihak yang melakukan pengubahan data dengan memanfaatkan tanda tangan digital.
c.Keutuhan data rekam medis setelah terjadi proses pengubahan dengan menggunakan sidik jari dari data tersebut.
d.Pencatatan yang dapat dijadikan barang bukti pembacaan, penambahan, dan koreksi terhadap data rekam medis.
e.Informasi untuk kebutuhan rawat jalan, bahan rujukan dan keadaan gawat darurat setiap saat. Pada keadaan gawat darurat, pemilik smartcard dapat langsung diberikan tindakan pengobatan secara lengkap karena pihak asuransi menjamin biaya pengobatan yang diberikan. Selain itu, pasien tidak perlu lagi datang ke rumah sakit tertentu untuk meminta data rekam medis miliknya. Dokter dan rumah sakit dapat memperoleh data rekam medis dari suatu rumah sakit secara on-line sehingga proses pengobatan menjadi lebih efisien.
f.Kerahasiaan data dari pihak yang tidak berwenang, baik data yang disimpan di dalam smartcard maupun data yang dikirimkan lewat jaringan komputer.
g.Interoperability sistem smartcard kesehatan yang sesuai dengan standar interoperability oleh EU/G7 Healthcards – WG7.


4.Rancangan sistem smartcard kesehatan dapat bertahan terhadap :
a.Penggunaan kunci privat dan sertifikat digital oleh pencuri karena kedua data
tersebut disimpan di dalam smartcard.
b.Serangan-serangan terhadap kerahasiaan data rekam medis yang dikirim melalui jaringan komputer.
5.Rancangan sistem smartcard kesehatan dapat ditambahkan pada sistem informasi yang telah ada di rumah sakit. Jadi sistem yang lama tidak langsung terbuang atau tidak dapat digunakan kembali.







V.2 SARAN

Beberapa saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian dalam tugas akhir
ini adalah sebagai berikut :
1.Penggunaan standar interoperability sistem smartcard kesehatan yang baku jika sudah ditentukan standar baku interoperability sistem smartcard kesehatan di masa yang akan datang.
2.Sistem smartcard kesehatan sesuai kebutuhan di Indonesia dapat diterapkan dengan membedakan beberapa jenis pelayanan. Sebagai contoh, terdapat tiga jenis pelayanan yaitu smartcard kesehatan gold, silver, dan regular. Dimana masing-masing jenis smartcard memberikan pelayanan yang berbeda. Sebagai contoh smartcard gold memberikan keamanan data di dalam smartcard yang tinggi dan kemampuan untuk mengakses data lewat jaringan komputer, smartcard silver hanya memberikan keamanan data di dalam smartcard tetapi tidak dapat meminta data lewat jaringan, sedangkan smartcard regular hanya menyimpan data rekam medis gawat darurat dan data asuransi kesehatan tanpa ada pengamanan data di dalam smartcard. Pasien dapat menggunakan jenis smartcard sesuai kebutuhannya.
3.Smartcard kesehatan yang juga menyimpan data rekam medis rawat inap.
4.Seluruh pihak yang mengeluarkan smartcard hendaknya bekerja sama dengan pihak asuransi kesehatan sehingga setiap pemilik smartcard juga memiliki asuransi kesehatan.
5.Penelitian mengenai rancangan sistem smartcard kesehatan sesuai kebutuhan di Indonesia masih dapat dikembangkan dalam hal :
a.Protokol penyerahan sertifikat digital ke pemilik smartcard.
b.Implementasi prototip rancangan sistem smartcard kesehatan sesuai kebutuhan di Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA
[AK96] Ross Anderson, Markus Kuhn. Tamper Resistance – A Cautionary Note; Computer Laboratory Cambridge University, and Department of Computer Sciences, Purdue University, 1996.
[BDHJN96] Feng Bao, Robert Deng, Yongfei Han, Albert Jeng, Desai
Narasimhalu, Teow Hin Nagir: New Attacks to Public Key Cryptosystems on Tamperproof Devices; Information Security Group, Institute of Systems Science, National University of Singapore, 1996.
[Chan99] Chan, Siu-Cheung Charles. An Overview of Smartcard Security;
1999.
[DHMM96] Thomas Dawkins, Justin Higgins, Sean Mathias, Joel Millecan, Michael Rice, Paul Tso: Unlocking Microsoft Internet Information Card centre; New Riders Publishing, Indianapolis 1996.
[EUHCI96] Interoperability of Healthcard Systems Part 3 : Homepage, 1996, http://www.compulink.co.uk/~cic/euhci.htm.
[IETF96] Internet Engineering Task Force : Secure Socket Layer 3.0 Specification; USA, 1996.
[ISO7816-95] ISO/IEC 7816, Interindustry Commands for Interchange, ISO/IEC, 1995.
[Microchart99] Microchart : Homepage, 1999. http://www.cyberspc.mb.ca/~.
[Motus99] Motus: Homepage, 1999. http://www.motus.com.
[MRI99] Medical Records Institute: Homepage, 1999 http://www.medrecinst.com/resources/levels.html.
[Oberthur99] Oberthur: Homepage, 1999. http://www.oberthurkirk.com.
[Orga99] Orga: Homepage, 1999. http://www.orga.com.
[PerMen89] Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 749a/MENKES/PER/XII/1989 tentang Rekam Medis/ Medical Records.
[PerPem66] Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran Presiden Republik Indonesia.
[Precis99] Precis: Homepage, 1999. http://www.precis-scs.com.
[Schn96] Bruce Schneier: Applied Cryptography, 2nd ed.; John Wiley & Sons, Inc., New York 1996.
[SSL99] Secure Socket Layer: Homepage, 1999,
http://www.verisign.com/repo-sitory/clientauth/clientauth.html.
[Tane89] Andrew S. Tanenbaum: Computer Networks, 2nd ed.; Prentice-Hall Inc., Englewood Cliffs 1989.



http://idkf.bogor.net/idkf/aplikasi/e-commerce/rancangan-keamanan-data-smartcard-sistem-kesehatan-1999.pdf






























.